search-button

Sejarah Alat Musik Sasando

   
Anakmusik Sejarah alat musik sasando. Sasando merupakan alat musik yang dimainkan secara dipetik. Alat musik sasando ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Sasando berasal dari kata dalam bahasa Rote (sasandu) yang berarti suatu alat yang berbunyi atau bergetar. Dikalangan masyarakat Rote inilah konon sasando digunakan sejak abad ke – 7. Bentuk atau rupa sasando ada miripya dengan alat musik petik lainnya contoh seperti kecapi, gitar dan biola. 

Sasando terbuat dari bambu, dan bagian utamanya berbentuk tabung panjang. Kemudian dibagian tengah, dawai atau senar yang diberi ganajalan atau sekat yang direntangkan ditabung, dari atas kebawah bertumpu dan melingkar  dari atas kebawah. Ganjalan inilah yang menghasilkan nada yang berbeda ketika dawai dipetik oleh pemain alat musik sasando ini. Sasando pun mempunyai wadah yang merupakan tempat resonansi sasando. Wadah ini terbuat dari daun lontar yang dianyam dibuat menyerupai kipas namun lebih cembung seperti kepompong ulat, namun tidak menutup bagian tengah atau inti dari sumber suara alat musik ini. Itu sekilas tentang sasando, selanjutnya mari kita simak secara seksama, sejarah alat musik sasando!

Sejarah Alat Musik Sasando

Beberapa penikmat musik khas indonesia di Australia dan Eropa tidak disangka ternyata menyukai alat musik sasando ini. Namun, di Indonesia sendiri lebih dari 200 juta penduduknya, banyak yang belum tahu apa itu alat musik sasando. Departemen kebudayaan dan pariwisata mengadakan acara festival musik sasando dengan hadiah utama Piala Presiden, guna memperkenalkan alat musik sasando agar lebih dekat dengan masyarakat Indonesia.  

Kalian sudah cukup tahu tentang apa itu musik sasando? Bagi mereka masyarakat pulau Rote, NTT, tempat sejarah alat musik sasando, musik sasando sangat terkenal sebagai musik keseharian. Alat musik yang tebuat dari bahan bambu dan daun pohon lontar. Pohon lontar di pulau Rote, saat ini tidak hanya dijadikan sebagai sumber kehidupan, karena menghasilkan gula semut, gula lempeng, tuak, sopi, atap rumah, haik, wadah pembungkus tembakau (rokok), dan balok bangunan, topi, sandal, mengapa dikenal dengan sebutan sasandu atau sasando karena daun pohon lontar mempunyai nilai yang lebih karena sering dijadikan resonansi musik.
Sejarah Alat Musik Sasando

Sasando merupakan alat musik langka, asal mulanya alat musik sasando menurut para tokoh adat di Pulau Rote, sejak Rote menjadi bagian dari daerah kerajaanlah alat musik langka itu dikenal. Dalam sejarah memang muncul banyak versi tentang sejarah munculnya sasando. Katanya, awalnya adalah ketika suatu hari ada seorang pemuda terdampar di Pulau Ndana saat pergi melaut, pemuda itu bernama Sangguana. Pemuda itu dibawa oleh penduduk ke istana untuk menghadap sang raja. Selama Sangguana tinggal di istana, dia memiliki bakat seni dan begitu cepatnya diketahui oleh banyak orang hingga sang putri raja pun terpikat. Sang putri meminta agar Sangguana membuatkan alat musik yang belum pernah ada. Hingga suatu malam, Sangguana bermimpi dia sedang memainkan suatu alat musik yang indah suaranya dan indah rupanya. Dengan mimpi itu, Sangguana menciptakan alat musik yang diberi nama sandu yang berarti bergetar. Ketika Sangguana sedang memainkan alat musik itu, sang putri bertanya “lagu apa yang kau mainkan?”, dan Sangguana menjawab, “Sari Sandu”. Lalu Sangguana memberikan alat musik itu kepada sang putri dan kmudian sang putri memberi nama alat musik itu “Depo Hitu” yang berati sekali dipetik tujuh dawai bergetar. 

Keindahan bunyi alat musik sasando bisa mengekspresikan dan menangkap berbagai macam nuasa dan emosi. Sasando juga dijadikan sebagai penambah keceriaan saat bersuka cita, musik pengiring tari, penghibur keluarga saat berduka, juga sebagai hiburan pribadi. Di Pulau Rote sekarang alat musik sasando dikenal sebagai alat musik yang menghasilkan melodi terindah.

Secara luas, sasando mempunyai bentuk serupa dengan instrumen petik lainnya seperti kecapi, biola, dan gitar. Namun bedanya sasando mempunyai cara untuk memainkanya yaitu dipetik  menggunakan dua tangan, seperti harpa dan tidak memiliki kunci (chord). Tangan kanan mempunyai fungsi untuk memainkan accord, sedangkan tangan kiri untuk memainkan melodi dan bass. Itulah yang menjadikan keunikan sasando karena dalam sekaligus seseorang dpat menjadi pemain accord, bass, dan melodi. 

Adapun jenis – jenis sasando yang membedakan adalah jumlah senarnya, sasando gong, sasando biola, sasando haik, sasando dobel (dengan 56 senar, atau 84 senar), dan sasando engkel (dengan 28 senar). Oleh sebab itu, sasando menjadi sangat bervariasi. Sasando pun  bisa memainkan hampir semua jenis musik, contoh seperti musik slow, rock, pop, tradisional dan bahkan dangdut pun bisa dimainkan oleh alat musik sasando. Kadang kala permainan musik sasando yang berbeda tipe, itu tergantung pada gaya permainan alat musik sasando di tiap daerah, tidak adannya sistem notasi dan keahlian pemain, terlebih pada sasando gong. 

Di Pulau Rote, terdapat dua jenis kombinasi sasando, dimana alat musik sasando dimainkan untuk mengiringi tabuhan gendang dan nyanyian. Sedangkan di Pulau Sabu, secara bersamaaan dua buah sasando dimainkan dengan iringan vokal, namun tanpa gendang. Dengan bahan baku dan bentuk yang sederhana itu, bukan suatu hal yang aneh jika orang Portugis dan Australia setiap berkujung ke Nusa Tenggara Timur selalu membeli sasando. Sehingga alat musik sasando ini menjadi musik kebanggan di negerinya.

Baca juga: