search-button

Mengetahui Sejarah Alat Musik Kolintang dan Perkembangannya

   
AnakmusikMengetahui Sejarah Alat Musik Kolintang dan Perkembangannya. Indonesia merupakan negara yang kaya akan budayanya, hal yang tak akan pernah habis bila kita berbicara tentang Indonesia, berbagai macam suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat juga musik tradisional menjadikan beberapa ciri kekayaan indonesia. Tak heran bila saja muncul beberapa kesenian menciptakan hasil karya yang beragam dan unik. Munculnya  keberagaman kesenian mengakibatkan keanekaragaman adat budaya di indonesia. Secara global perbedaan yang mencolok terlihat dari tiga bagian wilayah yang ada di Indonesia. Dimana Ketiga wilayah tersebut yakni wilayah utara, wilayah tengah, serta wilayah barat. Sulawesi merupakan wilayah bagian tengah dari negara Indonesia. Sedangkan minahasa terdapat di sebelah ujung utara pulau ini. Sedangkan Sulawesi bagian utara  termasuk wilayah Indonesia yang teirndikasi daerah cukup maju di Indonesia.

Mengetahui Perkembangan Dan Sejarah Alat Musik Kolintang

Di daerah Minahasa itu sendiri  banyak terdapat  adat budaya – budaya yang layak dilestarikan sebagai warisan sejarah daerah dan negara. Di Minahasa ada suatu adat budaya musik yang cukup menarik dan terkenal , yang mana alat musik yang dimaksud  adalah Kolintang. Kolintang adalah sejenis alat musik yang cara memainkannya sama halnya dengan cara memainkan alat musik gamelan di dataran Jawa. Akan  tetapi alat musik kolintang mempunyai perbedaan dari segi bahannya, yakni terbuat dari kayu yang disusun rapi juga sejajar. Kolintang merupakan alat musik tradisional yang menjadi kebanggan masyarakat setempat. Kolintang adalah salah satu alat musik khas yang berasal dari Minahasa (Sulawesi Utara). Sebuah Kolintang mempunyai 14 – 21 bilah kayu, yang mana mempunyai panjang sekitar 30 – 100 cm. Kayu yang lebih pendek bertindak menghasilkan tangga lagu (not) yang tinggi, di lain sisi kayu yang ukurannya lebih panjang bertindak menghasilkan not yang rendah.
Sejarah Alat Musik KolintangKolintang dibuat dari kayu lokal yang ringan, akan tetapi kuat di ibaratkan sejenis kayu telur, wenang, bandaran, cempaka, dan juga yang berkonstruksi fiber berbentuk paralel. Nama alat musik Kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Yang dalam bahasa daerah berarti, ajakan "Ayo kita lakukan TONG TING TANG" adalah: "Mangemo kumolintang". Ajakan berubah menjadi kata KOLINTANG. Pada awalnya alat musik Kolintang ini hanya terdiri dari beberapa potong kayu saja, yang mana ini diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya dimana posisi mereka duduk di tanah, dengan posisi kedua kaki terbujur lurus ke arah kedepan. Namun demikian seiring bergulirnya waktu, kedua kaki pemain kolintang diganti dengan dua buah batang pisang, atau bahkan sering diganti dengan tali, yakni Arumba yang berasal dari Jawa Barat. Penggunaan Kolintang itu sendiri erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Minahasa, yang mana biasanya dipakai dalam kegiatan keagamaan, yakni upacara – upacara pemujaan arwah – arwah para leluhur mereka. Seiring berkembangnya agama Kristen yang waktu itu di bawa oleh para misionaris Belanda, dengan ini eksistensi Kolintang yang merupakan bagian dari kepercayaan animisme menjadi demikian tersudut, bahkan terindikasi punah, menghilang selama kurun waktu kurang lebih 50 tahun. Setelah terjadinya perang Dunia II, alat musik Kolintang hadir kembali, ini di pelopori oleh Nelwan Katuuk, seorang seniman tuna netra yang berasal Minahasa bagian utara. Beliau lah yang berhasil merangkai nada kolintang berdasar skala diatonis. Sebuah Kolintang dapat di katakan lengkap apabila alat – alat tersebut terdiri dari 9 buah. Akan tetapi untuk kalangan professional, hanya cukup 6 buah alat saja. Gitar dapat di kolaborasikan dengan kolintang sebagai alat musik melodi, bisa pula di kolaborasikan dengan biola, xylophone, atau vibraphone. Hanya saja perlu diketahui, dikarenakan alat musik kolintang suaranya kurang panjang, maka pada nada yang dinginkan haruslah sedikit ditahan, yakni dengan cara menggetarkan pemukulnya (rall). Itulah sekelumit tentang sejarah alat musik kolintang (Indonesia).
Baca juga: